Kenapa orang indonesia tidak malu melakukan korupsi, penipuan, dan lainnya yang tidak mencerminkan karakter yang baik ?
Ini semua terjadi karena kesalahan dari sistem pendidikan kita. Sejak dulu kita selalu mengalami krisis karakter yang baik. Entah apa yang dipikirkan pemerintah sehingga pendidikan kita tak pernah maju.
Dana APBN dan APBD sebanyak 20% diprioritaskan untuk sektor pendidikan dengan harapan agar bangsa ini memiliki generasi penerus yang berguna bagi negara. Namun hingga kini harapan itu sepertinya tak akan pernah tercapai. Walaupun dana yang sangat banyak diberikan pemerintah, pendidikan bangsa indonesia tak pernah berubah, malahan semakin parah. tentu hal tersebut sangat memalukan mengingat dana yang telah digelontorkan oleh pemerintah.
Pendidikan kita banyak menghasilkan orang-orang yang pintar, namun tidak berkarakter. Sungguh sangat disayangkan mengingat karakter merupakan pondasi utama menuju negara yang maju. Banyak para pejabat yang melakukan tindakan korupsi. Mereka semua adalah orang yang dipilih karena kepintarannya sehingga dapat menduduki posisi/jabatan tersebut. Namun sayangnya kepintaran tanpa karakter yang baik sama seperti mobil tanpa roda, tak akan bisa membuat mobil tersebut berjalan.
Tentu kita akan bertanya-tanya kenapa negara lain bisa menghasilkan generasi yang berintegritas sedangkan kita tidak ?
ada 3 hal pokok yang membuat pendidikan Indonesia tidak mampu menghasilkan generasi yang berintegritas yakni sebagai berikut :
1.Pembangunan karakter tak menjadi prioritas utama dalam pendidikan di Indonesia
Pernahkah kita melihat di media bagaimana negara-negara lain mengajarkan pendidikan pada anak sejak usia dini. Di negara jepang, anak-anak telah diajarkan bagaimana untuk bertanggung jawab, bersikap jujur, dan lainnya. Misalnya anak-anak di jepang diharuskan membersihkan toilet agar mereka dapat menjaga kebersihan toilet dengan harapan kelak mereka dapat menjaga kebersihan toilet umum. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang toilet umumnya tak pernah bersih. Lain halnya dengan Jepang, Di Australia anak-anak telah diajarkan untuk belajar mengantri. Mereka lebih takut anak-anak di Australia tak bisa memiliki budaya mengantri ketimbang tak bisa matematika.
Sistem pendidikan di kedua negara tadi, sangat bertolak belakang dengan pendidikan di Indonesia. Anak-anak di Indonesia sejak memasuki usia sekolah akan diajarkan bagaimana caranya menulis, membaca, dan berhitung. pendidikan karakter juga diajarkan namun tak dipraktekkan. Indonesia lebih takut generasi penerusnya tak bisa membaca dan menulis daripada menjadi pribadi yang berkarakter baik. Sedangkan Australia dan Jepang lebih takut generasinya tak memiliki pribadi yang berkarakter baik karena menurut mereka untuk membangun sebuah karakter dibutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun, sedangkan untuk membaca dan menulis bahkan pintar matematika bisa dipelajari dalam waktu sebentar.
2.Pendidikan di Indonesia mengharuskan siswanya menguasai seluruh materi
Tak mengherankan lagi kenapa banyak sarjana yang menjadi pengangguran, ini semua karena selama mengenyam pendidikan mereka dituntut untuk menguasai seluruh materi pelajaran. Berbeda dengan negara lain yang muridnya diberikan materi pelajaran sesuai minat dan bakatnya. Jika siswa ingin menjadi seorang dokter, maka ia akan diberikan pelajaran sekolah yang berhubungan dengan minatnya. berbeda dengan Indonesia yang jika siswanya ingin menjadi seorang akuntan, dituntut juga untuk mempelajari dan menguasai materi sesuai kurikulum, yaitu pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan minat dan bakatnya.
Padahal secara logika jika seseorang ingin menjadi akuntan, mengapa ia juga harus belajar fisika, kimia, dan biologi. Aneh bukan ?. Dengan dituntut mempelajari semua materi, maka para siswa akhirnya kebingungan dalam menentukan masa depannya dan tidak dapat fokus pada cita-citanya yang dibuat dahulu.
3.Masih menggunakan angka dalam penilaian pada siswa sebagai indikator keberhasilannya
Contek-mencontek tak pernah hilang dari sistem pendidikan di Indonesia. Kegiatan tersebut telah dilakukan sejak menjadi siswa sekolah dasar. Untuk mendapat nilai yang bagus, para siswa akan melakukan segala cara agar nilai ujiannya tak terpuruk. Mengapa para siswa melakukan hal tersebut ?
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, nilai menjadi patokan untuk menentukan seseorang apakah ia mampu atau tidak mampu dalam mengikuti proses pembelajaran.
Bahkan sekolah di Indonesia memberikan peringkat siswa (ranking) sebagai bukti apakah siswa tersebut pintar atau tidak pintar. hal inilah yang membuat siswa rela melakukan segala cara guna mendapatkan nilai tersebut. Ketika ingin memasuki sekolah yang bermutu baik (favorit), siswa akan di tes kemampuannya melalui ujian tertulis. Semua indikator keberhasilan atau tidak berhasilnya seorang siswa dilihat dalam penilaian angka ketika mengikuti ujian.
Berbeda dengan Finlandia yang menyandang status sebagai pendidikan terbaiknya, disana para siswa hanya mengikuti sekali ujian tertulis saja dan sangat bertolak belakang dengan pendidikan di Indonesia yang setiap bulannya memiliki ujian. Penilaian berhasil atau tidaknya seorang siswa di Finlandia tidak didasarkan pada nilai ujian, bahkan disana tidak ada pembagian peringkat siswa (ranking) karena menurut mereka semua siswa sama, tidak ada yang tidak pintar.
Yang menentukan berhasil atau tidaknya siswa disana adalah guru di sekolah tersebut karena hanya guru yang bersangkutanlah yang mengetahui karakter dari muridnya. Sedangkan di Indonesia, yang menentukan keberhasilan seorang siswa didasarkan pada ujian nasional (UN). Sebuah kertas dapat menentukan layak atau tidaknya siswa naik kelas, Aneh bukan ?.
2.Pendidikan di Indonesia mengharuskan siswanya menguasai seluruh materi
Tak mengherankan lagi kenapa banyak sarjana yang menjadi pengangguran, ini semua karena selama mengenyam pendidikan mereka dituntut untuk menguasai seluruh materi pelajaran. Berbeda dengan negara lain yang muridnya diberikan materi pelajaran sesuai minat dan bakatnya. Jika siswa ingin menjadi seorang dokter, maka ia akan diberikan pelajaran sekolah yang berhubungan dengan minatnya. berbeda dengan Indonesia yang jika siswanya ingin menjadi seorang akuntan, dituntut juga untuk mempelajari dan menguasai materi sesuai kurikulum, yaitu pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan minat dan bakatnya.
Padahal secara logika jika seseorang ingin menjadi akuntan, mengapa ia juga harus belajar fisika, kimia, dan biologi. Aneh bukan ?. Dengan dituntut mempelajari semua materi, maka para siswa akhirnya kebingungan dalam menentukan masa depannya dan tidak dapat fokus pada cita-citanya yang dibuat dahulu.
3.Masih menggunakan angka dalam penilaian pada siswa sebagai indikator keberhasilannya
Contek-mencontek tak pernah hilang dari sistem pendidikan di Indonesia. Kegiatan tersebut telah dilakukan sejak menjadi siswa sekolah dasar. Untuk mendapat nilai yang bagus, para siswa akan melakukan segala cara agar nilai ujiannya tak terpuruk. Mengapa para siswa melakukan hal tersebut ?
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, nilai menjadi patokan untuk menentukan seseorang apakah ia mampu atau tidak mampu dalam mengikuti proses pembelajaran.
Bahkan sekolah di Indonesia memberikan peringkat siswa (ranking) sebagai bukti apakah siswa tersebut pintar atau tidak pintar. hal inilah yang membuat siswa rela melakukan segala cara guna mendapatkan nilai tersebut. Ketika ingin memasuki sekolah yang bermutu baik (favorit), siswa akan di tes kemampuannya melalui ujian tertulis. Semua indikator keberhasilan atau tidak berhasilnya seorang siswa dilihat dalam penilaian angka ketika mengikuti ujian.
Berbeda dengan Finlandia yang menyandang status sebagai pendidikan terbaiknya, disana para siswa hanya mengikuti sekali ujian tertulis saja dan sangat bertolak belakang dengan pendidikan di Indonesia yang setiap bulannya memiliki ujian. Penilaian berhasil atau tidaknya seorang siswa di Finlandia tidak didasarkan pada nilai ujian, bahkan disana tidak ada pembagian peringkat siswa (ranking) karena menurut mereka semua siswa sama, tidak ada yang tidak pintar.
Yang menentukan berhasil atau tidaknya siswa disana adalah guru di sekolah tersebut karena hanya guru yang bersangkutanlah yang mengetahui karakter dari muridnya. Sedangkan di Indonesia, yang menentukan keberhasilan seorang siswa didasarkan pada ujian nasional (UN). Sebuah kertas dapat menentukan layak atau tidaknya siswa naik kelas, Aneh bukan ?.
Ketiga hal diatas adalah masalah pokok yang membuat pendidikan di Indonesia tak akan pernah mengalami kemajuan/perubahan. Berapa banyakpun dana APBN yang diberikan, jika sistemnya tak diubah, maka tak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Indonesia mengalami krisis karakter dan memiliki generasi pintar yang berlimpah. Namun sekali lagi, Pintar tanpa karakter yang baik tak akan pernah membawa negara ini menuju kemajuan.
Entah kenapa pemerintah tak mencoba mengikuti metode pembelajaran seperti di Finlandia atau lainnya dan entah sampai kapan pendidikan seperti ini terus diterapkan. Mungkin pemerintah lebih takut generasinya menjadi bodoh daripada memiliki karakter yang baik.




3 komentar
Good
Yang nomor 1 mengingatkan ku pada masa lalu. Alkisah, aku jalan-jalan ke keliling sekolah, suatu ketika aku menemukan suatu tempat yg sangat bau, aku heren kenapa di dlm sekolah ada kandang b*bi, setelah ku masuki tmpat itu ternyata kamar mandi [-(
Yang nomor 2 memang aneh , masuk SMA lngsung berhadapan 17 mata pelajaran, udah buku berat-berat ga semua pula dibaca. Prinsip indo itu bagus, tau semua tapi dangkal wkwkwkwkwwkkwk
Nomor 3 no comment deh, cuma buat angka doang harus halalin berbagai cara wkwkw
Semua yang dikatakan itu benar gan. bangsa ini sangat krisis karakter, Tapi untuk lomba olimpiade sains dan lainnya kita disegani karena sering mengharumkan nama bangsa. Namun sekali lagi gan pintar tanpa karakter yang baik tidak akan membawa bangsa ini maju.
Silahkan berikan komentar dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar
EmoticonEmoticon