![]() |
| M Alzahra yang dibakar hidup-hidup |
Membakar manusia hidup-hidup lebih kejam dibandingkan dengan menembakkan pistol ke kepala manusia. Bukan tanpa alasan saya berani mengatakan hal demikian. Bayangkan saja bagaimana rasa sakit yang diderita ketika dibakar hidup-hidup, rasa panas dan perih menyelimuti seluruh tubuh. Lebih baik seseorang ditembak kepalanya dan langsung tewas di tempat tanpa ada rasa sakit dan penderitaan dari pada mati secara perlahan namun sangat menyakitkan.
Hal ini terjadi pada M Alzahra atau yang biasa dikenal dengan nama Joya. Pria berumur 30 tahun tersebut tewas setelah diamuk massa dan dibakar hidup-hidup. Pria asal Bekasi tersebut dituduh mencuri sebuah amplifier di Mushala Al-Hidayah kecamatan Babelan, kabupaten Bekasi. Joya yang dikenal orang taat beribadah tersebut tewas dengan cara yang sangat tragis di tangan masyarakat sekitar yaitu dengan dibakar hidup-hidup.
Tindakan tersebut menjadi perbincangan dimana-mana dan hampir seluruh masyarakat mengutuk perbuatan tersebut. Saya tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai kronologi kejadian yang menimpa korban tersebut. Terlepas dari tuduhan mencuri amplifier itu benar atau tidaknya, biar menjadi tugas kepolisian yang menangani kasus tersebut. Lalu timbul dalam benak saya, kenapa manusia tega melakukan perbuatan anarkis tersebut?.
Dimana hati nurani para pembakar korban hidup-hidup tersebut? Dimana sisi kemanusiaan mereka sebagai seorang manusia yang dianugerahkan Tuhan sebagai makhluk ciptaannya yang memiliki derajat paling tinggi di muka bumi. Ketika saya melihat beberapa foto yang memperlihatkan korban dibakar, saya langsung bingung, kenapa warga sanggup melihat dan hanya diam mematung melihat korban menderita hingga tewas.
Apakah mereka tidak takut atau merasa kasihan sebagai sesama manusia diperlakukan seperti itu, Apakah mereka benar-benar seorang manusia?. Korban hanya dituduh mencuri sebuah amplifier dan jika itu benar sekalipun apakah harus dihukum dengan cara dibakar?. Sungguh hal yang sangat tidak manusiawi sekali. Orang yang main hakim sendiri tersebut telah hilang sisi kemanusiaanya dan tidak patut lagi dikatakan manusia.
Korban tersebut juga manusia. bahkan bila ia mencuri pun, ia tetap seorang manusia. Seharusnya ia diperlakukan seperti manusia. Bahkan binatang sekalipun memiliki hati nurani dan memiliki belas kasih. Negara kita adalah negara hukum, biarkan hukum itu menyelesaikan semuanya. Kini korban telah tewas dan meninggalkan satu anak dan istri yang sedang dalam kondisi hamil. Entah bagaimana perasaan istrinya melihat suaminya dibunuh dengan cara yang tragis.
Sudah saatnya kita harus sadar dan merenung dari kejadian ini. Tindakan main hakim sendiri bukanlah hal yang tepat terlebih lagi bila korban hanya melakukan kesalahan kecil seperti mencuri benda yang tak seberapa. Kita adalah manusia. Orang yang tidak dapat memperlakukan sesamanya layaknya seorang manusia tidak pantas dikatakan seorang manusia. Kini kita hanya berharap pelaku pembakaran terhadap korban segera ditangkap dan diadili dengan seadil-adilnya.


4 komentar
Sungguh tragis, yang seharusnya memanusiakan manusia ini malah membinat*ngkan manusia.
Mantap tulisannya bung, semoga memberikan kesadaran bagi para manusia yang bisanya hanya main hakim sendiri.
Terima kasih atas sarannya, tentunya kita berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari
Manusia yang tidak layak disebut manusia...
Sadis banget dibakar gitu :/ gmana rasanya ya kalo yang bakar di bakar balik
Silahkan berikan komentar dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar
EmoticonEmoticon