Kamis, 31 Agustus 2017

FIRST TRAVEL, Harapan yang telah sirna

Sampai saat ini siapa yang tidak mengetahui First travel? ya namanya terus muncul di berbagai media nasional bahkan internasional karena kasus penipuan. First travel merupakan biro perjalanan umrah yang dimiliki oleh Andika surachman sebagai direktur utamanya dan istrinya Annisa desvitasari hasibuan yang juga sebagai direktur. Nama mereka kerap menjadi perbincangan publik karena telah menyelewengkan dana para jemaah yang ingin melakukan umrah.

Puluhan ribu jemaah yang belum di berangkatkan oleh First travel hanya bisa pasrah dan menerima nasib karena batal berangkat untuk melakukan umrah. Impian tersebut telah lenyap seketika sejak penangkapan pemilik First travel pada tanggal 9 Agustus 2017. Uang milik para jemaah diketahui digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. tentu semua masyarakat menjadi marah akan kejadian ini dan bersimpati atas batalnya para jemaah untuk berangkat umrah.

Jika dilihat latar belakang berdirinya First travel tersebut tentu akan membuat kisah mereka menjadi kisah yang menginspiratif. Andika dan istrinya yang terus jatuh bangun hingga bisa menjadi seperti sekarang ini telah melewati berbagai pahitnya kehidupan. Mulai dari menggadai motornya hingga menggadai rumahnya yang merupakan satu-satunya peninggalan dari ayah Annisa. Berbagai usaha telah mereka jalankan mulai dari menjual pulsa, burger, cetak foto, dan beragam usaha lainnya.

Bahkan rumah mereka pernah disita oleh bank karena tak mampu membayar kredit pada bank. Para tetangga pun banyak yang mencemooh mereka. Namun semua itu tidak menyurutkan semangat mereka. Hingga akhirnya mereka membuka biro perjalanan umrah yang membuat usaha mereka terus berkembang sampai saat ini. First travel telah memberangkatkan ribuan orang untuk melakukan ibadah umrah.

Banyak masyarakat yang mendaftar pada biro perjalanan First travel karena paket perjalanan yang ditawarkan sangat murah. Normalnya untuk melakukan perjalanan umrah biaya yang harus dikeluarkan kurang lebih berkisar 19-20 juta. Namun First travel menawarkan 4 juta lebih murah yakni hanya 14-15 juta rupiah saja. Hal inilah yang membuat banyak masyakat menjadi tertarik karena bisa menginjakan kaki di tanah suci dengan biaya yang murah.

Namun mimpi dan harapan itu telah sirna, masyarakat telah menjadi korban penipuan dan mau tidak mau harus merelakan uang yang telah mereka bayarkan kepada First travel. ribuan masyarakat terus diberikan janji-janji yang tak pernah menjadi nyata karena uangnya digunakan untuk keperluan bisnis pribadi dan hidup mewah. Annisa memiliki berbagai koleksi tas, sepatu, dan busana yang harganya super mahal yakni ratusan juta rupiah.


Ia juga seorang desainer terkenal dan wajahnya sempat terlihat di sampul majalah Forbes Indonesia edisi April 2017 bersama Sri mulyani dan 2 wanita lainnya. Ia dinobatkan sebagai sosok perempuan yang inspiratif. Namun karena kasus yang menimpanya tersebut, akhirnya Forbes Indonesia mencabut pengakuan yang sebelumnya telah diberikan kepadanya. Ya dia sangat tidak pantas berada di majalah tersebut.

Tindakan Pasangan suami istri tersebut sangatlah kejam. Rakyat yang telah menabung bertahun-tahun lamanya dengan harapan bisa menginjakan kaki di tanah suci, hanya menjadi angan-angan belaka. Pemilik First travel tersebut tidak mempunyai hati nurani. Ketika saya melihat di televisi, salah satu orang yang batal berangkat umrah mengaku telah menabung bertahun-tahun dari usaha warung makan yang dimilikinya.

Sedikit demi sedikit uang disisihkan dan harapan itu terasa  menjadi nyata ketika ia telah membayarkan uang dan dijanjikan untuk berangkat umrah. Setelah ia mengetahui akhir dari kisah First travel tersebut, ia pun mengaku telah mengikhlaskan uang tersebut dan tidak berharap apa-apa lagi. Sungguh sangat menyayat hati saya. Itu adalah salah satu dari puluhan ribu pengakuan yang batal berangkat umrah.

Entah apa yang ada di pikiran pemilik First travel tersebut. Mereka sangat tega memakan uang rakyat kecil yang telah bersusah payah. Tidak ada rasa penyesalan sama sekali ketika memakan uang rakyat untuk hidup mewah. Kematian pun mungkin tak akan membuat kebencian terhadap mereka berdua hilang. Mereka sangat pantas dijuluki manusia berhati iblis. Ditangkap atau tidak pun juga tidak akan mampu mengembalikan uang para jemaah yang batal berangkat tersebut.

Padahal Andika dan Annisa membangun usaha tersebut dengan susah payah dan penuh kerja keras. Namun uang telah membutakan hati mereka. Kini para jemaah yang batal berangkat tersebut hanya bisa mencoba untuk mengikhlaskan uang mereka dan juga impian untuk berangkat umrah yang telah pupus. Tentunya kita berharap agar hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi untuk kedepannya. Pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini adalah agar masyarakat lebih cermat lagi dan tidak mudah tertarik dengan iming-iming paket perjalanan yang murah, lebih baik membayar mahal namun memiliki kepastian dibandingkan murah namun berakhir tragis.


Senin, 07 Agustus 2017

Memanusiakan seorang manusia

M Alzahra yang dibakar hidup-hidup
Membakar manusia hidup-hidup lebih kejam dibandingkan dengan menembakkan pistol ke kepala manusia. Bukan tanpa alasan saya berani mengatakan hal demikian. Bayangkan saja bagaimana rasa sakit yang diderita ketika dibakar hidup-hidup, rasa panas dan perih menyelimuti seluruh tubuh. Lebih baik seseorang ditembak kepalanya dan langsung tewas di tempat tanpa ada rasa sakit dan penderitaan dari pada mati secara perlahan namun sangat menyakitkan.

Hal ini terjadi pada M Alzahra atau yang biasa dikenal dengan nama Joya. Pria berumur 30 tahun tersebut tewas setelah diamuk massa dan dibakar hidup-hidup. Pria asal Bekasi tersebut dituduh mencuri sebuah amplifier di Mushala Al-Hidayah kecamatan Babelan, kabupaten Bekasi. Joya yang dikenal orang taat beribadah tersebut tewas dengan cara yang sangat tragis di tangan masyarakat sekitar yaitu dengan dibakar hidup-hidup.

Tindakan tersebut menjadi perbincangan dimana-mana dan hampir seluruh masyarakat mengutuk perbuatan tersebut. Saya tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai kronologi kejadian yang menimpa korban tersebut. Terlepas dari tuduhan mencuri amplifier itu benar atau tidaknya, biar menjadi tugas kepolisian yang menangani kasus tersebut. Lalu timbul dalam benak saya, kenapa manusia tega melakukan perbuatan anarkis tersebut?.

Dimana hati nurani para pembakar korban hidup-hidup tersebut? Dimana sisi kemanusiaan mereka sebagai seorang manusia yang dianugerahkan Tuhan sebagai makhluk ciptaannya yang memiliki derajat paling tinggi di muka bumi. Ketika saya melihat beberapa foto yang memperlihatkan korban dibakar, saya langsung bingung, kenapa warga sanggup melihat dan hanya diam mematung melihat korban menderita hingga tewas. 
Istri korban
Apakah mereka tidak takut atau merasa kasihan sebagai sesama manusia diperlakukan seperti itu, Apakah mereka benar-benar seorang manusia?. Korban hanya dituduh mencuri sebuah amplifier dan jika itu benar sekalipun apakah harus dihukum dengan cara dibakar?. Sungguh hal yang sangat tidak manusiawi sekali. Orang yang main hakim sendiri tersebut telah hilang sisi kemanusiaanya dan tidak patut lagi dikatakan manusia.

Korban tersebut juga manusia. bahkan bila ia mencuri pun, ia tetap seorang manusia. Seharusnya ia diperlakukan seperti manusia. Bahkan binatang sekalipun memiliki hati nurani dan memiliki belas kasih. Negara kita adalah negara hukum, biarkan hukum itu menyelesaikan semuanya. Kini korban telah tewas dan meninggalkan satu anak dan istri yang sedang dalam kondisi hamil. Entah bagaimana perasaan istrinya melihat suaminya dibunuh dengan cara yang tragis.

Sudah saatnya kita harus sadar dan merenung dari kejadian ini. Tindakan main hakim sendiri bukanlah hal yang tepat terlebih lagi bila korban hanya melakukan kesalahan kecil seperti mencuri benda yang tak seberapa. Kita adalah manusia. Orang yang tidak dapat memperlakukan sesamanya layaknya seorang manusia tidak pantas dikatakan seorang manusia. Kini kita hanya berharap pelaku pembakaran terhadap korban segera ditangkap dan diadili dengan seadil-adilnya.

Kamis, 03 Agustus 2017

Indonesia tak akan pernah maju karena pendidikannya



Pernahkah kamu membayangkan kenapa karakter orang indonesia berbeda dengan orang jepang ?
Kenapa orang indonesia tidak malu melakukan korupsi, penipuan, dan lainnya yang tidak mencerminkan karakter yang baik ?
Ini semua terjadi karena kesalahan dari sistem pendidikan kita. Sejak dulu kita selalu mengalami krisis karakter yang baik. Entah apa yang dipikirkan pemerintah sehingga pendidikan kita tak pernah maju.

Dana APBN dan APBD sebanyak 20% diprioritaskan untuk sektor pendidikan dengan harapan agar bangsa ini memiliki generasi penerus yang berguna bagi negara. Namun hingga kini harapan itu sepertinya tak akan pernah tercapai. Walaupun dana yang sangat banyak diberikan pemerintah, pendidikan bangsa indonesia tak pernah berubah, malahan semakin parah. tentu hal tersebut sangat memalukan mengingat dana yang telah digelontorkan oleh pemerintah.

Pendidikan kita banyak menghasilkan orang-orang yang pintar, namun tidak berkarakter. Sungguh sangat disayangkan mengingat karakter merupakan pondasi utama menuju negara yang maju. Banyak para pejabat yang melakukan tindakan korupsi. Mereka semua adalah orang yang dipilih karena kepintarannya sehingga dapat menduduki posisi/jabatan tersebut. Namun sayangnya kepintaran tanpa karakter yang baik sama seperti mobil tanpa roda, tak akan bisa membuat mobil tersebut berjalan.

Tentu kita akan bertanya-tanya kenapa negara lain bisa menghasilkan generasi yang berintegritas sedangkan kita tidak ?
ada 3 hal pokok yang membuat pendidikan Indonesia tidak mampu menghasilkan generasi yang berintegritas yakni sebagai berikut : 

1.Pembangunan karakter tak menjadi prioritas utama dalam pendidikan di Indonesia

Pernahkah kita melihat di media bagaimana negara-negara lain mengajarkan pendidikan pada anak sejak usia dini. Di negara jepang, anak-anak telah diajarkan bagaimana untuk bertanggung jawab, bersikap jujur, dan lainnya. Misalnya anak-anak di jepang diharuskan membersihkan toilet agar mereka dapat menjaga kebersihan toilet dengan harapan kelak mereka dapat menjaga kebersihan toilet umum. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang toilet umumnya tak pernah bersih. Lain halnya dengan Jepang, Di Australia anak-anak telah diajarkan untuk belajar mengantri. Mereka lebih takut anak-anak di Australia tak bisa memiliki budaya mengantri  ketimbang tak bisa matematika.

Sistem pendidikan  di kedua negara tadi, sangat bertolak belakang dengan pendidikan di Indonesia. Anak-anak di Indonesia sejak memasuki usia sekolah akan diajarkan bagaimana caranya menulis, membaca, dan berhitung. pendidikan karakter juga diajarkan namun tak dipraktekkan. Indonesia lebih takut generasi penerusnya tak bisa membaca dan menulis daripada menjadi pribadi yang berkarakter baik. Sedangkan Australia dan Jepang lebih takut generasinya tak memiliki pribadi yang berkarakter baik karena menurut mereka untuk membangun sebuah karakter dibutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun, sedangkan untuk membaca dan menulis bahkan pintar matematika bisa dipelajari dalam waktu sebentar.

2.Pendidikan di Indonesia mengharuskan siswanya menguasai seluruh materi

Tak mengherankan lagi kenapa banyak sarjana yang menjadi pengangguran, ini semua karena selama mengenyam pendidikan mereka dituntut untuk menguasai seluruh materi pelajaran. Berbeda dengan negara lain yang muridnya diberikan materi pelajaran sesuai minat dan bakatnya. Jika siswa ingin menjadi seorang dokter, maka ia akan diberikan pelajaran sekolah yang berhubungan dengan minatnya. berbeda dengan Indonesia yang jika siswanya ingin menjadi seorang akuntan, dituntut juga untuk mempelajari dan menguasai materi sesuai kurikulum, yaitu pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan minat dan bakatnya.

Padahal secara logika jika seseorang ingin menjadi akuntan, mengapa ia juga harus belajar fisika, kimia, dan biologi. Aneh bukan ?. Dengan dituntut mempelajari semua materi, maka para siswa akhirnya kebingungan dalam menentukan masa depannya dan tidak dapat fokus pada cita-citanya yang dibuat dahulu.

3.Masih menggunakan angka dalam penilaian pada siswa sebagai indikator keberhasilannya

Contek-mencontek tak pernah hilang dari sistem pendidikan di Indonesia. Kegiatan tersebut telah dilakukan sejak menjadi siswa sekolah dasar. Untuk mendapat nilai yang bagus, para siswa akan melakukan segala cara agar nilai ujiannya tak terpuruk. Mengapa para siswa melakukan hal tersebut ?
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, nilai menjadi patokan untuk menentukan seseorang apakah ia mampu atau tidak mampu dalam mengikuti proses pembelajaran.

Bahkan sekolah di Indonesia memberikan peringkat siswa (ranking) sebagai bukti apakah siswa tersebut pintar atau tidak pintar. hal inilah yang membuat siswa rela melakukan segala cara guna mendapatkan nilai tersebut. Ketika ingin memasuki sekolah yang bermutu baik (favorit), siswa akan di tes kemampuannya melalui ujian tertulis. Semua indikator keberhasilan atau tidak berhasilnya seorang siswa dilihat dalam penilaian angka ketika mengikuti ujian.
 
Berbeda dengan Finlandia yang menyandang status sebagai pendidikan terbaiknya, disana para siswa hanya mengikuti sekali ujian tertulis saja dan sangat bertolak belakang dengan pendidikan di Indonesia yang setiap bulannya memiliki ujian. Penilaian berhasil atau tidaknya seorang siswa di Finlandia tidak didasarkan pada nilai ujian, bahkan disana tidak ada pembagian peringkat siswa (ranking) karena menurut mereka semua siswa sama, tidak ada yang tidak pintar.

Yang menentukan berhasil atau tidaknya siswa disana adalah guru di sekolah tersebut karena hanya guru yang bersangkutanlah yang mengetahui karakter dari muridnya. Sedangkan di Indonesia, yang menentukan keberhasilan seorang siswa didasarkan pada ujian nasional (UN). Sebuah kertas dapat menentukan layak atau tidaknya siswa naik kelas, Aneh bukan ?.


Ketiga hal diatas adalah masalah pokok yang membuat pendidikan di Indonesia tak akan pernah mengalami kemajuan/perubahan. Berapa banyakpun dana APBN yang diberikan, jika sistemnya tak diubah, maka tak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Indonesia mengalami krisis karakter dan memiliki generasi pintar yang berlimpah. Namun sekali lagi, Pintar tanpa karakter yang baik tak akan pernah membawa negara ini menuju kemajuan.

Entah kenapa pemerintah tak mencoba mengikuti metode pembelajaran seperti di Finlandia atau lainnya dan entah sampai kapan pendidikan seperti ini terus diterapkan. Mungkin pemerintah lebih takut generasinya menjadi bodoh daripada memiliki karakter yang baik.

Selasa, 25 Juli 2017

Fidelis, membuat kesalahan untuk kebenaran




Ingatkah kamu dengan pria yang ditangkap karena menanam ganja untuk mengobati istrinya yang sedang sakit ?


Ya, dia adalah Fidelis arie sudewarto yang merupakan pegawai negeri sipil di daerah Sanggau, Kalimantan barat. Ia ditangkap oleh BNN karena kepemilikan 39 batang pohon ganja yang ditanamnya.

Berbagai upaya pengobatan yang dilakukannya tidak pernah memiliki efek yang baik hingga akhirnya ia mencoba sebuah metode pengobatan yang dilarang di negeri ini, yakni penggunaan ganja.

Ganja yang digunakannya untuk mengobati istrinya ternyata membuahkan hasil, Perlahan-lahan istrinya mulai menunjukkan kondisi fisik yang baik. 

Namun ketika Fidelis ditangkap oleh petugas BNN, pengobatan dengan metode pemberian ganja menjadi terhenti dan kejadian yang menyayat hati pun terjadi , istrinya menghembuskan nafas terakhirnya setelah Fidelis berada dalam tahanan pihak BNN. 

Saya mulai mencari dan membaca mengenai manfaat ganja terutama bagi kesehatan. Sungguh terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa ganja memiliki manfaat terutama bijinya, yang sangat berguna sekali bagi dunia medis. 

Berdasarkan dari berbagai penelitian ilmiah, ganja memilik manfaat seperti memperlambat penyakit alzheimer, mematikan sel kanker, dan merupakan sumber protein yang baik. tentunya ganja juga memiliki efek samping namun tidak terlalu berbahaya.



Di Indonesia, kepemilikan ganja adalah hal yang ilegal dan ada beberapa negara yang melegalkan ganja karena dianggap memiliki khasiat yang baik. Pelarangan ganja di Indonesia dikarenakan penggunaan yang menyimpang sehingga dapat berakibat fatal seperti kerusakan otak dan lain-lain.

Saya sedikit heran dengan alasan pelarangan ini, ganja memiliki manfaat yang luar biasa dan dilarang hanya karena penyalahgunaannya, lalu apa bedanya dengan alkohol ?
Alkohol jika digunakan dengan tepat, maka akan memberikan manfaat yang baik, namun sebaliknya jika disalahgunakan juga akan berakibat fatal.

Sungguh dilema bagi saya untuk menentukan apakah Fidelis melakukan kesalahan atau telah menjadi malaikat karena terus berjuang untuk kesembuhan istrinya. Seharusnya kasus seperti fidelis tidak terulang lagi, pemerintah harus meneliti mengenai manfaat ganja sehingga memperbolehkan penggunannya untuk medis.

Ganja memiliki manfaat kesehatan yang baik dan jika disalahgunakan, seharusnya yang patut disalahkan adalah pemakainya, bukan ganjanya.

Fidelis telah melakukan perbuatan yang baik, hanya saja ia berada di tempat yang salah. Ia menggunakan ganja dengan tepat dan rasanya ia tak pantas jika dihukum, namun karena kita adalah negara hukum dan pelarangan penggunaan ganja ada dalam Undang-undang, maka mau tak mau ia harus menjalani proses hukum. Dan kita semua berharap semoga keadilan menyertainya.

Sabtu, 22 Juli 2017

Ketika semut mempermalukan manusia


Kulihat televisi sambil memakan keripik kentang, para anggota dewan perwakilan rakyat yang berseteru layaknya petinju dunia yang tak mau kalah hingga demi mempertahankan keinginannya ia rela melakukan berbagai cara seperti walk out, membuat kericuhan, dan lainnya.

Tak sengaja kulihat semut sudah berada di sekitaran kaki ku. Kulihat mereka berbaris dengan sangat rapi dan mereka mengangkut kembali keping-keping keripik yang kumakan tadi. Tiba-tiba terlintas di pikiranku, kenapa manusia tak mewarisi karakter dari semut ?, Terbayang di kepalaku bagaimana para dewan tadi bersikap dengan semut ini, ah rasanya semut ini lebih pantas berada di posisi dewan tadi.

Aku mulai menyukai semut-semut tersebut. Serangga kecil ini memiliki karakter yang tak dimiliki oleh semua manusia. Sikap tanggung jawab, disiplin, bekerja sama, semuanya mewarisi dalam diri semut sehingga semut dianggap sebagai hewan yang berintegritas. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling tinggi karena kemampuan otaknya, sangat jauh dibandingkan dengan semut yang sangat kecil.

Kuletak keripik kentangku dalam ukuran yang besar di lantai dan kutunggu beberapa saat, semut-semut ini ingin membawa pulang keripik tersebut kerumahnya sebagai makanan terbaik yang mereka dapatkan hari ini. Ternyata mereka memisahkan keripik tersebut menjadi 3 bagian dengan maksud agar dapat diangkut dengan kapasitas kemampuan yang mereka miliki. Sungguh luar biasa !

Ketika mereka tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut, mereka tidak menyerah, melainkan mengubah cara pandangnya terhadap masalah tersebut.

Sangat berbeda dengan manusia yang ketika mendapatkan masalah, ia menyalahkan masalah tersebut karena tak mampu diselesaikannya. Seharusnya ia mengubah cara pandangnya seperti semut tadi agar masalah dapat diselesaikan.

Ah seharusnya semut-semut ini yang berada di gedung dewan tadi dibandingkan dengan mereka yang tak punya etika sebagai wakil rakyat